“Pemerintah menyebut ketersediaan beras nasional berada di kisaran 25–26 juta ton dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 10 bulan. Angka jumbo tersebut bukan seluruhnya stok di gudang Bulog, melainkan perhitungan yang turut memasukkan potensi produksi dari tanaman yang sudah berada di lahan serta pasokan di luar Bulog.”
nowdots – Ketersediaan beras Indonesia kembali menjadi perhatian setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut totalnya mencapai sekitar 25–26 juta ton. Dengan kebutuhan nasional sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan, pemerintah menilai pasokan tersebut cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat hingga sekitar 10 bulan ke depan.
Angka tersebut terlihat massive dan sekilas memberikan gambaran bahwa Indonesia memiliki gudang berisi 26 juta ton beras. Namun, definisinya perlu diperhatikan karena hanya sekitar 5 juta ton yang disebut berada di Perum Bulog, sedangkan komponen lainnya berasal dari potensi produksi tanaman yang sedang tumbuh atau standing crop dan ketersediaan yang diperhitungkan dari sektor lainnya.
Dalam penjelasannya pada September 2026, Amran menyebut total ketersediaan beras nasional berasal dari beberapa komponen. Salah satunya adalah stok yang berada di Perum Bulog dengan jumlah sekitar 5 juta ton.
Komponen besar berikutnya berasal dari standing crop atau tanaman padi yang saat ini telah berada di lahan dan nantinya akan dipanen. Luas standing crop disebut mencapai sekitar 3,8 juta hektare dengan proyeksi menghasilkan sekitar 10 juta ton beras.
Pemerintah juga memperhitungkan lebih dari 10 juta ton ketersediaan dari sektor di luar Bulog, yang dalam berbagai pernyataan dikaitkan dengan hotel, restoran, kafe dan stok di masyarakat. Jika berbagai komponen tersebut dijumlahkan, pemerintah memperoleh estimasi total sekitar 25–26 juta ton.
Jadi, istilah “stok 26 juta ton” perlu dibaca secara proper agar tidak misleading. Angka tersebut merupakan gambaran total ketersediaan berdasarkan perhitungan pemerintah, termasuk produksi yang diproyeksikan dari tanaman yang belum dipanen, bukan 26 juta ton beras yang semuanya sudah tersimpan sebagai cadangan pemerintah.
Kebutuhan Beras Indonesia 2,5–2,6 Juta Ton per Bulan
Besarnya stok kemudian dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi beras nasional. Menurut Amran, Indonesia membutuhkan sekitar 2,5 hingga 2,6 juta ton beras setiap bulan.
Dengan asumsi kebutuhan berada di level 2,6 juta ton per bulan, angka 26 juta ton secara matematis setara dengan kebutuhan sekitar 10 bulan. Itulah dasar pemerintah menyatakan kondisi perberasan nasional relatif aman dalam beberapa bulan mendatang.
Pada Juli 2026, Amran juga telah memberikan perhitungan serupa. Ketika itu, ia menyebut ketersediaan sekitar 26 juta ton terdiri dari sekitar 5,2 juta ton di Bulog, potensi produksi standing crop sekitar 10 juta ton, serta sekitar 10,8 juta ton dari sektor hotel, restoran, dan kafe.
Dengan kata lain, klaim ketersediaan 26 juta ton bukan baru muncul pada September. Pemerintah sudah menggunakan angka tersebut sejak beberapa bulan sebelumnya sebagai salah satu dasar untuk menunjukkan kesiapan menghadapi periode cuaca yang berpotensi mengganggu produksi.
Pemerintah Yakin Stok Aman Hadapi El Nino
Ketersediaan beras dalam jumlah besar menjadi particularly important karena Indonesia menghadapi risiko cuaca ekstrem. Pemerintah menempatkan cadangan dan keberlanjutan produksi sebagai bagian dari strategi menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino.
Amran menyatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk mempertahankan produksi. Program tersebut mencakup pembangunan dan perbaikan irigasi, embung, irigasi perpompaan, optimalisasi lahan sawah dan rawa, serta pencetakan sawah baru.
Strateginya bukan hanya memastikan berapa banyak beras tersedia hari ini, tetapi menjaga supaya produksi berikutnya tetap masuk ketika stok lama mulai digunakan. Basically, ketahanan pangan membutuhkan aliran produksi yang terus berjalan, bukan sekadar gudang besar yang penuh pada satu titik waktu.
Hal ini menjadi penting karena sebagian dari angka 26 juta ton merupakan potensi produksi standing crop. Apabila kondisi cuaca, air, hama, atau faktor lainnya mengganggu hasil panen, realisasi produksinya tentu menjadi variabel yang perlu terus dipantau.
Stok Bulog Sendiri Sekitar 5 Juta Ton

Angka yang juga perlu mendapat spotlight adalah stok Perum Bulog. Pemerintah menyebut jumlah beras yang berada di Bulog sekitar 5 juta ton pada September 2026.
Jumlah tersebut berbeda dari total ketersediaan nasional sekitar 26 juta ton. Bulog mengelola cadangan beras pemerintah yang mempunyai peran strategis dalam stabilisasi pasokan dan harga, termasuk melalui berbagai instrumen intervensi pasar.
Sebagai perbandingan, Badan Pangan Nasional mencatat stok beras yang dikelola Perum Bulog sekitar 4,22 juta ton per 26 Maret 2026. Dengan demikian, posisi stok Bulog memang telah berada pada level jutaan ton sepanjang periode tersebut.
Memisahkan antara “stok Bulog” dan “ketersediaan nasional” menjadi crucial supaya publik tidak salah membaca data. Ketika pemerintah mengatakan 26 juta ton, itu tidak sama dengan mengatakan Bulog menyimpan 26 juta ton beras di seluruh gudangnya.
Dengan perhitungan kebutuhan sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan, pemerintah memperkirakan pasokan dapat menopang kebutuhan hingga tahun depan. Dalam pernyataan pada pertengahan September 2026, Amran bahkan menyebut ketersediaan dapat mencukupi kebutuhan hingga sekitar Juni 2027.
Sementara dalam keterangan terbaru pada 20 September, pemerintah menekankan bahwa pasokan cukup untuk membawa Indonesia menuju periode panen berikutnya, termasuk panen raya sekitar Maret 2027. Fokusnya adalah menjaga kontinuitas produksi di antara satu musim panen dengan musim berikutnya.
Perbedaan penyebutan Maret atau Juni tidak selalu berarti datanya bertentangan. Maret merujuk pada momentum panen raya yang menjadi titik penting penambahan pasokan, sedangkan perhitungan sekitar 10 bulan dari September membawa proyeksi ketersediaan menuju pertengahan 2027.
Meski demikian, angka tersebut tetap merupakan proyeksi berdasarkan ketersediaan dan produksi yang diperhitungkan saat ini. Kondisi cuaca, realisasi panen, distribusi, konsumsi, serta kebijakan pemerintah dapat membuat situasi aktual berkembang.
Kondisi pasokan yang dinilai kuat membuat pemerintah tidak hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan domestik. Indonesia juga mulai mengarahkan sebagian produksi beras untuk pasar luar negeri.
Amran menyebut Indonesia telah melakukan ekspor beras ke Malaysia. Pemerintah juga mengumumkan rencana pengiriman 10.000 ton beras untuk Palestina, sementara kebutuhan dalam negeri diklaim tetap menjadi prioritas.
Perkembangan tersebut cukup noteworthy mengingat Indonesia dalam beberapa periode sebelumnya dikenal sebagai salah satu negara yang melakukan impor beras untuk menambah cadangan. Pemerintah menggunakan perkembangan ekspor ini sebagai indikator bahwa kondisi produksi dan pasokan domestik telah mengalami penguatan.
Namun, volume ekspor tetap perlu ditempatkan dalam perspektif terhadap kebutuhan nasional. Dengan konsumsi mencapai sekitar 2,5–2,6 juta ton setiap bulan, stabilitas pasokan domestik tetap menjadi faktor utama dalam menentukan seberapa jauh ekspor dapat dilakukan.
Stok Banyak, Apakah Harga Beras Otomatis Murah?
Ini menjadi pertanyaan yang cukup interesting. Secara teori, ketersediaan pasokan yang kuat membantu mengurangi tekanan terhadap harga, tetapi besarnya stok nasional tidak otomatis membuat harga beras di tingkat konsumen langsung turun.
Harga di pasar dipengaruhi oleh banyak layer, mulai dari harga gabah di tingkat petani, biaya penggilingan, kualitas beras, distribusi, transportasi, margin pedagang, lokasi konsumen, sampai keseimbangan supply-demand di setiap daerah. Distribusi stok juga sama pentingnya dengan jumlah stok itu sendiri.
Beras sebanyak jutaan ton yang tersedia di satu bagian rantai pasok tidak automatically membuat beras murah di pasar lain apabila distribusinya tidak berjalan efektif. Karena itu, kebijakan stabilisasi seperti penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP tetap relevan meskipun stok secara nasional dinilai tinggi.
Pada September 2026, pemerintah bahkan menambah pasokan beras SPHP untuk periode Oktober hingga Desember sebagai salah satu langkah menghadapi potensi tekanan harga akibat El Nino. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap memandang stabilisasi pasar sebagai pekerjaan terpisah dari sekadar memastikan jumlah stok nasional.
Pemerintah sendiri mengakui ketahanan pangan tidak boleh hanya bergantung pada stok yang telah tersedia. Produksi dari petani harus terus berjalan agar cadangan yang digunakan masyarakat dapat terus digantikan oleh pasokan baru.
Inilah mengapa standing crop seluas sekitar 3,8 juta hektare menjadi komponen penting dalam perhitungan. Tanaman tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 10 juta ton beras setelah memasuki masa panen.
Pada saat yang sama, keberlanjutan musim tanam berikutnya perlu dijaga. Ketersediaan air, pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, hingga harga yang diterima petani akan menentukan apakah level produksi dapat dipertahankan.
Ketahanan pangan yang sustainable pada akhirnya bukan hanya soal mencetak angka stok tertinggi. Sistem harus mampu membuat petani tetap produktif, konsumen memperoleh harga yang wajar, dan pemerintah mempunyai cadangan yang cukup untuk melakukan intervensi ketika terjadi gangguan.
Headline “Indonesia punya stok beras 26 juta ton” memang terdengar impressive. Namun, konteks perhitungannya menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan agar angka tersebut dipahami secara akurat.
Sekitar 5 juta ton merupakan stok yang disebut berada di Bulog, sekitar 10 juta ton merupakan potensi produksi dari standing crop, sedangkan lebih dari 10 juta ton lainnya diperhitungkan dari pasokan di luar Bulog. Kombinasi tersebut menghasilkan estimasi total ketersediaan sekitar 25–26 juta ton.
Dengan kebutuhan sekitar 2,5–2,6 juta ton setiap bulan, pemerintah menghitung jumlah tersebut setara dengan kebutuhan kurang lebih 10 bulan. Atas dasar itulah pemerintah menyatakan pasokan beras Indonesia berada dalam kondisi aman menghadapi periode menuju panen berikutnya.
Still, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan seluruh proyeksi produksi benar-benar terealisasi dan pasokan dapat terdistribusi secara merata. Sebab bagi masyarakat, indikator ketahanan pangan yang paling terasa bukan sekadar angka jutaan ton, tetapi apakah beras mudah ditemukan dan harganya tetap terjangkau.
Referensi
- ANTARA, “Mentan: Stok Beras Nasional Aman hingga Juni 2027 Meski El Nino,” 15 September 2026.
- Liputan6.com, “Stok Beras 26 Juta Ton, Pemerintah Jamin Aman Sampai Maret 2027,” 20 September 2026.
- IDN Times, “Mentan: Stok Beras 26 Juta Ton, Cukup untuk 10 Bulan Hadapi El Nino,” 30 Juli 2026.
- detikFinance, “Mentan Jamin Stok Beras Aman Lewati El Nino, Segini Besarnya,” 30 Juli 2026.
- Badan Pangan Nasional, data ketersediaan pangan dan stok Perum Bulog 2026.
- Bloomberg Technoz, “Amran Klaim Stok Beras Aman 10 Bulan, Respons Harga Naik,” 16 September 2026.
