Sorotan:
- CENTCOM resmi umumkan pencabutan blokade Selat Hormuz pada 19 Juni 2026 dini hari
- Harga minyak WTI terkoreksi ke level $74 per barel setelah pengumuman
- DPR RI desak Pertamina segera evaluasi harga Pertamax yang sempat naik ke Rp 16.650/liter
Jakarta — Amerika Serikat resmi mencabut blokade angkatan laut terhadap Iran di Selat Hormuz pada Jumat (19/6/2026) dini hari, setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman damai pada Kamis (18/6/2026). Langkah ini mengakhiri penutupan jalur energi terpenting dunia yang telah berlangsung lebih dari dua bulan dan mengguncang pasar minyak global.
🔖 Simpan artikel ini untuk perkembangan terbaru seputar harga energi dan dampaknya bagi Indonesia.
Ini yang Terjadi: Garis Waktu Pencabutan Blokade

Konflik bermula saat Iran menutup Selat Hormuz pada akhir Februari 2026 sebagai respons atas serangan militer gabungan AS dan Israel ke Teheran. Selat tersebut — yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia — tertutup selama lebih dari tiga bulan, memicu lonjakan harga minyak Brent hingga menyentuh $119,94 per barel pada April 2026.
Titik balik terjadi di Islamabad. Pakistan mengumumkan pada Kamis pagi (18/6/2026) bahwa Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman secara elektronik, yang kemudian dikenal sebagai Islamabad Accord. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan di Swiss pada 19 Juni.
Komando Pusat Militer AS (US Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi pencabutan blokade melalui platform X beberapa jam kemudian. Meski armada kapal perang AS masih disiagakan di kawasan untuk memantau kepatuhan kedua pihak, lalu lintas pelayaran komersial kini bebas melintas.
“[CENTCOM] mengumumkan penghentian blokade di kawasan Selat Hormuz sesuai arahan Presiden Donald Trump.” — US Central Command, 19 Juni 2026
Dampak Langsung: Minyak Turun, Pasar Global Reli

Pasar bereaksi cepat. Harga minyak mentah WTI Amerika Serikat turun ke level $74 per barel sesaat setelah pengumuman CENTCOM. Angka ini jauh di bawah puncak krisis yang sempat mendekati $120 per barel.
Wall Street mencatat reli positif. Kapal-kapal tanker minyak dan kargo yang sebelumnya tertahan dilaporkan mulai melintasi perairan Selat Hormuz kembali pada Kamis malam.
Kesepakatan 14 poin antara AS dan Iran mencakup:
- Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional tanpa biaya tol selama 60 hari pertama
- Komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir
- Pembentukan dana rekonstruksi ekonomi Iran senilai $300 miliar (AS tidak wajib berkontribusi)
- Pelonggaran sanksi minyak dan keuangan terhadap Iran secara bertahap
Selama 60 hari masa transisi, kedua negara sepakat menahan eskalasi sambil membahas implementasi lebih lanjut.
Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?

Bagi Indonesia, pembukaan Selat Hormuz adalah kabar yang ditunggu-tunggu — meski tidak langsung terasa di SPBU.
Pertamina terakhir menyesuaikan harga BBM pada 10 Juni 2026, menaikkan Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.650 per liter sebagai respons atas lonjakan harga minyak dunia akibat blokade. Kini, dengan harga minyak yang kembali melemah, tekanan publik untuk menurunkan harga BBM semakin kuat.
Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam secara terbuka meminta pemerintah dan Pertamina segera mengevaluasi harga BBM nonsubsidi.
“Jangan sampai logikanya hanya berlaku satu arah. Saat harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan. Tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian.” — Mufti Anam, Anggota Komisi VI DPR RI, 15 Juni 2026
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan memantau perkembangan harga minyak dunia terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan penyesuaian. “Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz, kita baru lihat penyesuaian terhadap harga lagi,” ujarnya.
Situasi ini berkaitan langsung dengan kondisi fiskal nasional. Dalam simulasi APBN 2026 yang disusun dengan asumsi harga minyak $70 per barel, setiap kenaikan $1 per barel dapat menambah beban negara sekitar Rp 10,3 triliun. Saat konflik memuncak, potensi tambahan belanja negara bisa mencapai ratusan triliun rupiah — tekanan yang turut mendorong kenaikan utang negara sebesar Rp 386 triliun yang dicatat pada periode yang sama.
Selain BBM, Indonesia juga terpapar dari sisi LPG. Negara ini merupakan salah satu importir LPG terbesar di dunia dengan kebutuhan impor 7,8 juta ton pada 2026, di mana sekitar 30 persen biasanya bersumber dari produsen Timur Tengah, menurut data GRC Indonesia (April 2026).
Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Iran menegaskan bahwa pelayaran di Selat Hormuz tetap harus berkoordinasi dengan Teheran, sesuai laporan Antara News (19/6/2026). Iran juga akan berkonsultasi dengan Oman mengenai pengelolaan maritim jangka panjang di selat tersebut sesuai hukum internasional.
Masa transisi 60 hari menjadi kunci. Jika negosiasi berjalan mulus, sanksi minyak dan keuangan terhadap Iran akan dicabut secara bertahap — yang berpotensi menambah pasokan minyak global dan menstabilkan harga lebih lanjut.
Bagi konsumen Indonesia, penurunan harga Pertamax kemungkinan baru bisa terjadi pada evaluasi harga berikutnya, mengikuti mekanisme yang biasa dilakukan Pertamina setiap awal bulan. Pemulihan stabilitas energi global ini juga diharapkan memberi ruang bagi pemulihan ekonomi yang lebih luas — termasuk mendorong minat investasi dan aktivitas konsumsi yang sempat tertahan selama krisis berlangsung.
FAQ
Apa itu Selat Hormuz dan mengapa penting?
Selat Hormuz adalah jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arabia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap harinya, menjadikannya salah satu titik paling vital dalam sistem energi global.
Apakah harga Pertamax langsung turun setelah Selat Hormuz dibuka?
Belum tentu langsung turun. Pertamina terakhir menyesuaikan harga pada 10 Juni 2026. Penyesuaian berikutnya bergantung pada evaluasi harga minyak global dalam beberapa pekan ke depan.
Apa isi kesepakatan damai AS-Iran?
Kesepakatan mencakup 14 poin, termasuk pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol selama 60 hari, komitmen denuklirisasi Iran, pelonggaran sanksi bertahap, dan pembentukan dana rekonstruksi $300 miliar.
